Super Toy dipercaya merupakan benih varietas padi unggulan karena merupakan gabungan Rojolele yang pulen dan besar bijinya dengan jenis padi Pandanwangi yang terkenal harum. Bahkan, padi itu diklaim dapat dipanen tiga kali tanpa menanam lagi! Hasil yang dijanjikan juga luar biasa, yakni 15 ton per hektare!
Masyarakat dan pemerintah mesti menyikapi masalah tersebut dengan penuh kearifan karena untuk 'kasus' Super Toy masih ada unsur keilmiahan. Selama ini berbagai kalangan langsung mengejek penemunya tanpa melakukan pemahaman mendalam. Yang dikhawatirkan, sang penemu itu menjadi 'ngambek' dan putus asa tidak mau melanjutkan hasil penelitiannya. Dan, yang lebih dikhawatirkan lagi, ejekan itu juga membikin minder para kreator yang lain di berbagai bidang penemuan.
Di sela-sela dunia perguruan tinggi kita yang sepi dari karya-karya besar, ada seorang Tauyung Supriyadi dengan ide yang cemerlang. Revolusi industri di Barat pada awal abad ke-19 juga tidak dimotori dunia perguruan tinggi, namun oleh para praktisi bengkel. Misalnya, Thomas Alva Edison, Graham Bell, Wright Bersaudara, Marconi, dan James Watt.
Perguruan tinggi di Eropa Barat pada saat itu baru terjebak kepada 'aristokrasi' intelektual. Para ilmuwan dari ilmu alam merasa paling jago dengan ukuran keilmiahannya hanya didasarkan kepada seberapa jauh mereka memahami ikon-ikon seperti hukum thermodinamika dan hukum Newton. Dan, ilmuwan humaniora juga angkuh dengan tolok ukur sendiri seberapa jauh memahami karya-karya Shakespeare, dst.
Demikian pula, perguruan tinggi kita. Ada ledekan bahwa IPB (Institut Pertanian Bogor) adalah gudang para ilmuwan kaliber dunia. Mereka dapat menemukan atau mengembangkan ilmu apa saja, kecuali ilmu pertanian! Di IPB ada jurusan komputer, matematika, statistik, dan sebagainya.
Pada sisi yang lain, sang penemu Super Toy, Tauyung Supriyadi, boleh dikatakan seorang 'superboy', sama halnya Pak Mukibat, petani yang menemukan ketela pohon unggulan, maupun Pak Mujair yang menemukan benih ikan air tawar unggulan. Dia bukan seorang profesor doktor yang hanya sibuk mondar-mandir memeluk diktat atau laptop di setiap pertemuan ilmiah, dengan materi yang nyaris sama sepanjang tahun, untuk dijajakan sehingga mirip 'pengasong' ilmu.
Dari pengamatan sekilas, Tauyung Supriyadi menjadi 'korban' ABS, asal bapak senang, atau bisa juga dia korban komersialisasi. Penemuan Super Toy yang baru diuji lima kali, tanpa sronto (Jw) langsung diambil alih oleh PT SHI (Sarana Harapan Indopangan) untuk segera disosialisasikan. Dalam kondisi negara yang tengah terkurung dalam 'perangkap pangan' (food trap) negara-negara superpower, munculnya varietas unggulan itu sangatlah menggiurkan.
Hikmah dari kasus Super Toy adalah menguak kelemahan para pejabat kita. Bagaimana mungkin sekelas presiden langsung bersedia memanen perdana Super Toy di Purworejo tanpa memikirkan lebih dalam? Di titik ini terlihat lemahnya para staf ahli yang berada di sekeliling presiden.
Berbeda dengan Pak Harto, di luar kelemahan beliau, ada satu kehebatan. Yakni, Pak Harto senantiasa bergaul dengan para petani lewat klompencapir atau senantiasa menghayati sendiri kehidupan petani dengan memiliki peternakan di Tapos. Pak Harto juga paham hitungan 'pranoto mongso' karena beliau memang anak seorang petani tulen. Beliau mengalami pahit getirnya menjadi seorang petani.
Super Toy juga menunjukkan sang kreator panen perdana itu berharap akan mendapat 'berkah' dari 'keberhasilan' promosinya tersebut, yang berarti juga akan membayangkan meraup keuntungan yang luar biasa pada masa mendatang.
Kreativitas v Superpower
Sketsa di atas hendak mengantarkan kepada satu harapan, jangan matikan kreativitas para petani kita dalam menemukan varietas baru. Berbeda dengan blue energy yang 'tidak ilmiah', Super Toy dilalui dengan metode ilmiah yang baik dan masih tetap membawa harapan baru pada masa mendatang.
Super Toy tetap menjadi harapan di tengah terkaman negara-negara superpower. Lihat saja, bangsa ini kini dicengkeram perusahaan-perusahaan multi-national corporations (MNCs) di bidang pangan, mulai hulu hingga hilir !
Industri benih pertanian atau input pertanian dikuasi raksasa MNCs, seperti Syngenta, Monsanto, dan Bayer Crop, dengan total USD 40 miliar. Demikian pula, dalam hal industri pengolahan pangan, MNCs seperti Nestle, Kraft Food, Cargill, dan Unilever juga bukan perusahaan yang asing bagi kita. Produk-produk mereka sudah kita cicipi setiap hari, dengan total penguasaan USD 490 miliar. Sampai di sini saja? Belum! Mereka juga mengecerkan hasil pangan tersebut lewat Carrefour, Wal Mart, Tesco, Metro Group, dst, dengan total USD 1.091 miliar.
Dengan kata lain, Superpower benar-benar menguasai para petani dan bangsa kita. Para petani ibarat ''buruh'' di negeri sendiri. Mereka menanam benih padi impor, menjual kepada MNCs, kemudian MNCs mengolah dan menjualnya dalam bentuk jadi. Dan, petani makan olahan pangan tersebut (dari hasil panen yang mereka jual) dengan harga yang jauh lebih mahal!
Karena itu, dibutuhkan superboy-superboy yang dapat menemukan Super Toy untuk membendung kapitalisme superpower. Apa khabar perguruan tinggi kita? Sibuk menjual bangku kuliah yang mahal, namun kosong kreativitas?
---
Oleh: Saratri Wilonoyudho, pengajar dan peneliti pada Universitas Negeri Semarang
Jawa Pos Kamis, 11 September 2008
Jum'at, 12 September 2008 diposting pada kategori Cermin Partai
Super Toy, Superboy, dan Superpower
DUA kali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'dipermalukan' berkaitan dengan hal-hal yang dipromosikan sebagai barang ajaib. Yang pertama, ketika SBY memercayai kehebatan ''air api'' yang disebut blue energy. Dan, kedua, soal varietas tanaman padi dengan keunggulan luar biasa yang diberi nama Super Toy. Namun, harap dibedakan bahwa blue energy terbukti menipu karena hampir tidak mungkin air bisa berubah menjadi bahan bakar, sedangkan kasus yang kedua masih ada nuansa ilmiah.
SABETAN
13/08/10 Spiral Kekerasan dari Silang...
09/06/08 Klepek-Klepek...
01/06/08 Dengar, Dengarkan Lao...
22/05/08 Ngutang Demi...
26/05/08 Good Bye Demokrasi Prosedural An...
15/05/08 Weladalah,...