*** Pemilu 2014 Belum Siap *** Perkuat Sektor Parlemen Agar Pemerintahan Efektif *** Pembekalan Caleg Berlanjut ke Dapil *** Jangan Lupakan Sejarah Perjuangan ***
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 30 Juli 2007 diposting pada kategori KRONIK

Media Massa Sebagai Pilar Keempat Demokrasi Harus Tetap Obyektif

Media massa adalah kekuatan penyeimbang dalam komunikasi politik dengan rakyat sebagai pilar keempat dalam demokrasi setelah eksekutif, legilatif dan yudikatif. Karena itu, menjelang Pilkada, Pileg maupun Pilpres, media masa menjadi sangat penting peranannya. “ Media massa, sebagai pilar keempat (the fourth estate) negara demokrasi, dalam pemilu, mempunyai peran penting sebagai saluran informasi rakyat. Karena itu, harus tetap obyektif.” Kata Eddy Wahyudi, S.H., M.Si., Wakil ketua Badan Infokom DPD PDI Perjuangan Jatim, pada suatu perbincangan politik dengan aktifis mahasiswa di Kampus UNTAG Surabaya, beberapa waktu lalu.
Menurut Eddy, di zaman Ode Baru media massa fungsinya dipakai mendukung kebijakan rezim penguasa, tetapi sekarang ini, sudah dipakai sebagai saluran bagi aggregasi dan artikulasi kepentingan partai politik . “Media massa bisa menjadi sarana agregasi dan artikulasi kepentingan warga negara. Sekarang media massa sudah menjadi wahana kampanye bagi partai atau calon kepala daerah” Kata Eddy yang juga Penanggung Jawab situs berita www.pdiperjuangan-jatim.org.

Menurutnya, siapapun yang mengelola kampanye melalui media dengan baik, dialah yang akan meraih simpati rakyat dan akhirnya dapat meraup suara untuk memenangkan pemilu. “Dalam berbagai pemilu sering terlihat media massa terlibat “dukung mendukung” calon-calon atau parpol tertentu. Dan tak jarang, akhirnya, beritanya jadi bias.” Kata Eddy tentang keterlibatan media massa dalam kampanye pemilu.

Karena itu, menurut Eddy, menguasai media adalah sangat penting kekuatannya media massa sebagai fourth estate. “ Kekuatan media massa itu sama seperti eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dia mampu memberikan pendidikan politik kepada rakyat, bahkan mendorong perubahan politik.” Kata Eddy tentang kekuatan peranan media massa dalam politik.

Karena itu, menurut Eddy, meski harus tetap obyektif, media massa juga harus ikut terlibat pendidikan politik bagi rakyat sesuai dengan peranannya sebagai wahana artikulasi dan aggregasi kepentingan. “Tanpa media massa yang obyektif, keadaan bisa runyam, ketika pemberitaan media massa menjadi memihak, timpang dan cenderung menafikan lawan politiknya. Ini sangat berbahaya.“ Kata Eddy di akhir pembicaraan. (Red)


Copyright (c) 2007 - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Timur
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
Host by pusathosting.com & Design by Topiq
Web Master by Agiz YL