*** Pemilu 2014 Belum Siap *** Perkuat Sektor Parlemen Agar Pemerintahan Efektif *** Pembekalan Caleg Berlanjut ke Dapil *** Jangan Lupakan Sejarah Perjuangan ***
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 18 Juli 2013 diposting pada kategori KRONIK

Bambang DH Goreng Sendiri Kolong Klitik

BAMBANG DH mengunjungi home industri kolong klitik, camilan khas Pacitan. Home industri yang dia kunjungi yakni di rumah Jumiah, di Tugu Batas, Dadapan, Kecamatan Pringkuku.
Lima perempuan tampak asyik mengitari bahan camilan kolong klitik yang masih mentah. Mereka membuat bentukan kolong dari bahan camilan yang digemari masyarakat itu.

Seorang di antara mereka yang mengenakan penutup kepala, lantas berdiri, saat Bambang DH masuk pekarangan rumahnya. Perempuan bernama Jumiah, yang ternyata pemilik home industry itu lantas menyalami Bambang DH.

"Selamat siang, Pak Bambang. Selamat datang di rumah sekaligus tempat usaha kami," ucap Jumiah, sambil menyalami Bambang DH, diikuti empat perempuan lainnya.

"Ya ini, salah satu camilan favorit saya sejak kecil. Kalau di Surabaya jarang ada. Tapi tiap kali ke Pacitan, saya sempatkan membelinya," kata Bambang DH, di sela obrolan gayengnya dengan para perempuan, warga setempat yang bekerja di rumah Jumiah.

Cagub yang mendapatkan nomor urut 3 dalam Pilkada Jatim 29 Agustus 2013 itu mengacungi jempol, karena warga Pacitan masih berusaha mempertahankan eksisnya kolong klitik. Malah, saat ini rasanya lenih enak dan lebih renyah.

"Sekarang rasanya lebih enak, dan tidak terlalu keras. Saat saya masih kecil, kerasnya bukan main," ujarnya.

Bambang DH juga melihat proses penggorengannya. Meski asli kelahiran Pacitan, Bambang DH mengaku belum pernah melihat pembuatan kolong klitik dalam skala banyak, seperti di rumah Jumiah ini.

Seperti penasaran, Bambang DH lantas mencoba menggoreng kolong klitik, di sebuah wajan besar. Dengan panduan seorang perempuan, Bambang DH lantas menggoreng sendiri camilan kesukaannya.

Menurut Bambang DH, para pembuat kolong klitik hampr tidak menemui kendala dalam usahanya. Sebab bahan baku dari ketela pohon, sangat banyak ditemui di Pacitan. "Camilan ini juga sehat, karena dari bahan ketela pohon dan hanya dibumbui bawang putih, dan garam," kata Bambang.

Juga pemasarannya, sampai sekarang hampir tidak ada masalah. Hal itu dibenarkan Jumiah, yang tiap hari dia membuat 80 Kg kolong klitik. "Dan selalu habis diambil para bakul. Harganya Rp 13.000 sekilonya," ungkap Jumiah.

Oleh para bakul, kolong klitik yang dibelinya lantas dikemas lagi dalam bungkus plastik, lalu dijual ke masyarakat. (pri)


Copyright (c) 2007 - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Timur
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
Host by pusathosting.com & Design by Topiq
Web Master by Agiz YL