*** Pemilu 2014 Belum Siap *** Perkuat Sektor Parlemen Agar Pemerintahan Efektif *** Pembekalan Caleg Berlanjut ke Dapil *** Jangan Lupakan Sejarah Perjuangan ***
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 30 September 2008 diposting pada kategori ARTIKEL

Mudik Lebaran, Tradisi Kultural di Atas Fondasi Islam

Oleh: Daryatmo Mardiyanto (Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Eksternal Informasi dan Komunikasi)

MUDIK Lebaran bagaikan ciri khas keindonesiaan. Setiap tahun menjelang akhir bulan Ramadhan, seluruh kalangan masyarakat, para pengusaha dan aparat pemerintahan serta keamanan disibukkan tak kepalang tanggung dengan ‘ritual’ mudik Lebaran.
Memang ada penyebabnya. Tidak lain karena sekelompok masyarakat Muslim melakukan perjalanan dari rantau tempat kerjanya, pulang ke kampung halaman untuk berlebaran.

Peserta mudik Lebaran pun fantastis. Jumlahnya tidak hanya ratusan ribu orang, tetapi sudah berbilang jutaan orang, yang makin tahun jumlahnya makin meningkat. Ya orang tua, ya orang muda, ya pekerja serta pengusaha, ya orang swasta sipil sampai pada keluarga TNI-POLRI. Dalam waktu dua sampai tiga minggu aktivitas dan kegiatan masyarakat tumpah ruah di seputar prosesi mudik Lebaran, akhir bulan puasa sampai awal bulan syawal.

Ada kegiatan apa mereka di kampungnya? Mereka pulang mengajak seluruh keluarganya. Menempuh perjalanan yang melelahkan. Kadang menginap, menempuh resiko lalu lintas darat dan sungai, meninggalkan seluruh kegiatan yang selama ini ditekuni di rantau. Semuanya dilakukan dengan pancaran cahaya yang penuh dengan keikhlasan.

Inilah ritual yang pertama. Di kampung halamannya, mereka ikut sholat Ied berjamaah di mesjid atau di lapangan, bersama sanak saudara, di sekitar tanah, lingkungan kelahiran atau masa kecilnya. Semua hadir di lapangan rasa aman, tenang, ikhlas, dan bahagia, bahkan dengan kemasan baju koko dan kebaya baru, apalagi untuk remaja dan anak-anak mereka.

Sesudah bersembahyang Idul Fitri, baru bersilaturahim dengan rekan dan kawan sambil berjalan pulang. Prosesi itu belum selesai sesaat tiba di rumah. Kemudian, seluruh keluarga sanak saudara melakukan 'sungkeman' ke orang tua atau yang yang dituakan sebagai sebuah tradisi. Sanak saudara itu terdiri dari suami isteri, menantu anak dan keponakan, bahkan sampai dengan cucu. Bersembahyang dan berdoa, mengucapkan syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat, karunia dan rahmat Nya, sebagai pencerminan rasa kemenangan setelah memenangkan perang yakni berpuasa selama satu bulan penuh di bulan penuh rahmat.

Sholat Id itu waktunya tertentu dan tunggal, bertepatan dengan 1 Syawal. Hal inilah yang mengakibatkan perjalanan pulang kampung itu selalu riuh rendah dengan kesulitan lalu lintas yang bernama kemacetan. Sering macet total. Lengkap dengan asesori berita tentang perilaku sosial dari orang yang menempuh perjalanan pulan kampung. Berita koran, televisi, dan radio melengkapinya dari berbagai dimensi pemberitaan.

Buat orang yang menempuh perjalanan mudik pastilah merasakan penyimpangan atas rencana terhadap realita. Sering waktu tempuh jadi bias atau melenceng dari perkiraan. Bahkan kemacetan di seluruh lini perjalanan sebagian kalangan memandang sebagai kambing hitam masalah. Sebagian lagi memandangnya sebagai masalah yang harus diatasi.

Ritual berikutnya sebagai yang kedua masih ada. Pada kondisi seperti ini, berlakulah pengajaran budi pekerti. Dan salah satu butir dari budi pekerti itu adalah sebagai 'menghormati orang tua dan yang dituakan'. Dan hal ini dilakukan secara berkala, sekurang-kurangnya se tahun sekali setelah menjalani ibadah puasa. Semuanya mohon maaf ke pada ayah ibu, orang yang lebih tua, saling maaf memaafkan di antara se sama keluarga, sesama rekan dan handai taulan. Semua lebur dalam suasana batiniah yang setara. Sama tinggi ketika bediri dan sama rendah ketika duduk bersimpuh. Jabatan, posisi, identitas lain yang melekat selama di rantau, struktur dinas dan pekerjaan se-olah punah. Protokoler jadi kabur dan tersisihkan. Semuanya jadi seorang manusia dengan harkat kemanusiaannya sebagai makhluk sosial. Jabatan seperti petinggi negeri dalam lembaga kepresidenan dan pejabat publik lainnya tak berlaku ketika memasuki ranah komunitas sosial sebagai sebuah keluarga besar kekerabatan yang selama ini jadi lingkungan sosialnya.

Ritual ketiga berikutnya adalah berziarah ke kuburan atau makam orang tua dan kerabatnya dan dilakukan bersama-sama. Membersihkan makam, melakukan doa bersama memohonkan ampunan kepada Allah swt atas kekhilafan dan dosa para pendahulunya dan memohonkan jalan bagi arwah-arwah keluarga agar diterima di sisi Nya. Berbondong-bondong ke makam keluarga, baik keluarga sendiri, keluarga besarnya maupun keluarga menantu dan besan. Kesemuanya menjadi sebuah doa dan permohonan kepada yang Maha Kuasa. Semua peserta mudik Lebaran hampir pasti tidak akan melewatkan tahapan ritual ketiga ini. Kadang doanya singkat. Kadang doanya panjang. Kadangkala pula diiringi dengan titikan air mata, yang muncul karena semua seolah merunut masa lalu yang sudah dilaluinya sampai saat ini.

Itulah sebuah perjalanan tradisi mudik Lebaran di Indonesia . Lengkap dengan informasi dan variasi-nya. Dan berbicara tentang kemacetan itu, pernah memunculkan berbagai opsi penyelesaian. Beberapa tahun lalu, pernah ada opsi yang memberikan saran dan masukan agar perjalanan mudik itu di-ubah. Saran untuk tidak menumpuk pada satu waktu tertentu.

Kalau dicermati lebih lanjut, opsi pemikiran itu akhirnya kandas. Istilah keren-nya melawan naluri atau kodratiah dari makna yang disebut dengan tradisi. Tradisi itu sudah kental hadir menjadi sebuah perilaku budaya. Dan hal itu semakin kuat karena tradisi tersebut berdiri kokoh di atas fondasi agama, Islam.

Bukti menunjukkah bahwa perjalanan itu sebagai mobilitas horisontal dalam mudik lebaran yang kemudian tidak hanya menjadi milik orang Jawa saja. Tidak hanya orang yang pergi ke daerah Jawa dan berangkat dari Jakarta saja. Melainkan juga perjalanan mudik lebaran dari Jakarta ke arah Sumatera menuju ke Sumatera Barat dengan 'pulang basamo'-nya, menuju ke Lampung dan mulai marak sampai ke Palembang, Bengkulu, serta daerah lainnya. Belum lagi yang ke arah timur Indonesia . Ada unsur tradisi kultural. Namun sekaligus ada unsur rekreasi kolegial yang melekat didalamnya.

Dengan demikian, kita sudah sampai pada kesimpulan yang final sifatnya. Bila kita semua harus menanggapi hal tersebut, juga semakin jelas duduk perkaranya. Jadi, dengan arus mudik lebaran ini apa yang harus dilakukan jadi terang benderang.

Tradisi mudik Lebaran atau pulang kampung ini tidak mungkin ditiadakan. Ilusi untuk menghilangkannya pun harus ditepis. Tradisi ini milik masyarakat. Tradisi ini berurat dan berakar dalam sebuah basis sosial. Dan tradisi ini bakal semakin kukuh dalam sebuah format sosial yang namanya 'merawat kekerabatan'. Bahkan makna kegotong royongan keluarga dan kegotong royongan sosial terasa semakin kental jadi sebuah basis sosial untuk Indonesia . Karenanya, kenyataan ini berlaku sebagai tantangan bersama. Tantangan untuk semua fihak tanpa peduli siapapun mereka. Dan tantangan itu harus dikedepankan sebagai tantangan bagi siapapun yang memerintah negeri ini, memerintah Indonesia , sampai kapanpun.

Tradisi mudik Lebaran bakal menerus. Tradisi mudik Lebaran harus dicegah dan tidak boleh menjadi beban sosial. Tugas para penyelenggara sekarang nampak jelas di depan mata. Karenanya, seluruh fihak dan aparat birokrasi justru harus bersikap dan bertindak sebaliknya. Semua kalangan harus melakukan tindakan 'memfasilitasi' tradisi ini sebagai bagian yang penting. Bagian itu yang namanya untuk memperkuat dan memperkukuh solidaritas sosial dan kesetiakawanan sosial.

Seluruh tekad dan tindakan ter-rencana harus dilakukan sejak kini. Perencanaan yang menyeluruh harus terwujud secara kongkrit. Tidak ada alasan sedikitpun untuk menghindarinya. Bahkan dalam penyusunan dan penetapan APBN dan APBD pun hal ini harus terwujud secara kongkrit dan dengan dukungan kalkulasi ke-ekonomian, baik ke-ekonomian tingkat nasional, regional, dan lokal yang terintegrasikan.

PDI Perjuangan adalah partainya wong cilik. PDI Perjuangan adalah partai yang memberikan ruang bagi kukuhnya elemen dan faktor yang sifatnya ke-Indonesia-an. Apalagi bila menyangkut perihal yang sifatnya 'khas' Indonesia . Hal inipun tidak hanya berlaku pada soal mudik Lebaran sebagai tradisi budaya. Tetapi menyangkut pada hal yang sifatnya menyeluruh. Misalnya saja, pada seni Indonesia dan seni daerah. Kebiasaan atau perilaku daerah dan setempat yang menjadi ciri produksi Indonesia , seperti, batik, lukisan dan seni lukis, patung kayu, batu dan logam. Juga pada ragam tarian yang inspiratif dan kaya akan kepedulian lokal. Tidak hanya itu, bahkan berbagai aktivitas masyarakat yang mengejawantahkan pada perawatan alam dan lingkungan hidup setempat.

Secara berkala dan setiap tahun, PDI Perjuangan memfasilitasi mudik Lebaran atau pulang kampung ini. Kita juga menyaksikan bahwa berbagai kelompok masyarakat juga berinisiatif seperti itu. Dan hal ini telah berlangsung secara teratur sejak lama. Para kelompok pengusaha juga memfasilitasi hal tersebut bagi para karyawannya. Kesemuanya sebagai inisiatif masyarakat.

Kalau kemudian partai, dalam hal ini PDI Perjuangan, tentu diharapkan menjadi sebuah titik awal dan langkah lanjut ke depan. Hal ini dimaksudkan agar nafas 'tuntutan kebijakan publik' dapat tercermin dalam skala yang lebih luas dan dalam lingkup yang lebih nasional sifatnya. Dan hal itu semestinya dapat terwujud menjadi sebuah kebijakan politik nasional ke depan ini.

Tahun 2008 ini, PDI Perjuangan mampu memberangkatkan 425 bus dari Jakarta ke arah timur. Kesungguhan, tekad dan kemampuan ini tentu tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Pertama tentu dari sisi pembiayaan. Bahwa dengan gotong royong para kader dan simpatisan PDI Perjuangan dapat memberangkatkan hampir 22 ribu orang. Ini suatu kenyataan dan mungkin sebuah prestasi. Karenanya, ketika sertifkat MURI akan diberikan kepada PDI Perjuangan untuk mudik lebaran tahun 2008 ini, publik dan kalangan masyarakat lainnya dapat ikut serta memberikan penilaian atas kerja dan kinerja partai, PDI Perjuangan. Berlomba untuk berbuat kebajikan bagi umat dan masyarakat dapat menjadi sebuah norma sosial yang bakal menjadi pemacu dan pemicu untuk mengembangkan kegotong royongan sosial di negeri Indonesia ini.

Kedua, pengorganisasian kerja dan teknis untuk mengurusi sejumlah orang yang tidak sedikit tersebut merupakan kemajuan yang makin nyata. Bahwa pengorganisasian tersebut adalah buah dari kerja kolektif kader, konsisten secara berkala setiap tahun mengurusi hal yang sifanya 'ikhlas' tanpa pandang bulu asal kelompok masyarakat. Dan kesungguhan untuk itu bakal melahirkan 'kompetensi' PDI Perjuangan untuk mengurus sesuatu hal yang sifatnya sosial.

Ketiga, model dan tipologi yang sejenis dengan mudik lebaran ini dapat berkembang secara luas. Ragam jenis dan bentuknya pasti bakal meluas. Apabila hal ini pun dapat dilakukan oleh organisasi yang namanya sebuah partai, yakni PDI Perjuangan, diharapkan masyarakat menjadi semakin dekat 'hati dan perasaan' nya terhadap peran dan kerja sebuah partai politik.

Kita semua dapat memperkuat 'peran, citra dan persepsi publik' tentang kerja dan kinerja sebuah partai politik. Sungguh tidak mengada-ada bila PDI Perjuangan juga mempunyai harapan yang sama bagi partai-partai politik selain PDI Perjuangan untuk memerankan bentuk-bentuk kegiatan sosial-kultural yang seperti ini. (*)


Copyright (c) 2007 - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Timur
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
Host by pusathosting.com & Design by Topiq
Web Master by Agiz YL